0

Seusang Cangkir Kopiku

.


Tiba saatnya;
kau hanya bisa menatap cangkir kopimu dibawah rinai pagi,
dan membiarkan hujan menceritakan kecemasannya.


.
0

Akan Selalu Ada Yang Pertama



Akan selalu ada yang pertama,
Seperti apa yang sudah kau rasakan sendiri,
Atau yang hanya diberitakan oleh Ibu dan Ayahmu dulu.
Atau rasa yang kau kecap diam-diam untuk dengan segera kau artikan sebagai cinta.
Atau ketika kau mencoba rokok pertamamu kemudian bertemu candu, lalu memberitahukannya pada Ibumu.
Akan selalu ada yang pertama,
Seperti bibir yang saling bertemu dan kau bilang itu ciuman paling indah yang pernah kau rasakan. Padahal belum ada ciuman-ciuman sebelumnya.
Juga rengkuhan yang kau bilang rumahmu sebagai lengan, padahal hanya selewatan tangan mampir di pundak.
Akan selalu ada yang pertama,
Seperti apa yang menangisimu hingga hendak runtuh semestamu serta serakan perasaanmu di gunungan tisu.
Akan selalu ada yang pertama,
Seperti mencintai orang lain setelah kau memutuskan dirimu sudah punya kekasih, untuk kemudian kau tertangkap basah dan hubunganmu berakhir sudah.
Akan selalu ada yang pertama,
Seperti apa-apa yang kamu sangka tiada. Untuk kemudian kamu menyadari bahwa hanya karena sesuatu belum pernah kamu temui bukan berarti ia tidak ada.
Dan yang terakhir,
Akan selalu ada yang pertama,
Dimana telah kau temui dua, tiga, atau bahkan entah kali ke berapa.
Kau akan jatuh cinta pada orang yang sama, seperti pertama kalinya.

oleh Elwa, dalam Fragmen Dua Kepala.
0

Kepada Rinai Pagi

.

kepada kamu...
ijinkan pesakitanku sedikit bersandar,
dia sudah terlalu lelah, sendiri.


kepada rinai pagi...
tolong sampaikan pesan ini,
bahwa lukaku masih setia disini,
menunggu goresan tak bernama, selanjutnya.


.
0

Tentang Pelangi

.



Tolong jelaskan,

Adakah yang lebih setia dari sebuah pelangi?
dia yang tak pernah jera menunggu hujan reda.

Adakah yang lebih tabah dari sebuah pelangi?
Sejenak datang untuk meronakan hari,
lalu mengalah pergi untuk matahari.

Sedang kamu,
yang belum juga menyadari akan aku, disini.



.

Untuk Kamu

.


Adakah yang lebih ramai dari riuh tawa canda?
Ada. 
Dua cangkir kopi dengan kita yang saling memenjarakan kata, dan membiarkan mata kita saling bicara.

Adakah yang lebih sepi dari kesendirian?
Ada. 
Ketika dua manusia saling mencinta tanpa ada ‘kita’ diantaranya.

Adakah luka yang lebih menyakitkan dari putus asa? 
Ada.
Ketika bertahan adalah pilihan terakhir dalam air mata pesakitannya.

Adakah jalan yang lebih panjang dari jarak yang pernah ada?
Ada. 
Itulah kita.

Terima kasih sudah datang, lagi, dan pergi tanpa pamit, untuk kesekian kalinya.

Darimu, aku banyak belajar tentang rasa sakit.
Darimu, aku banyak belajar tentang mimpi.
Darimu, aku banyak belajar cinta,
iya, bahwa cinta memang tidak selalu harus memiliki.

Rasa itu masih sama. Bahkan getarannya. Apalagi kenyamanannya.
Hanya saja, rasa itu tak bernama, asing.
Pun bertuan, dia piatu sekarang, tak bernona.

Bahkan aku terlalu mencintai setiap pertemuan kita, walau selalu berujung sajak tak bernama.

Jaga diri kamu baik-baik. 
Sampai bertemu lagi, disuatu nanti yang kapan entah.

Jika esok kau datang lagi, 
semoga aku sudah siap, untuk pesakitan selanjutnya.




.
0

Asaku Patah, Lagi.

.


Asaku patah, lagi.


.
0

Mari Berjalan-Jalan, Nona.

.

Nona, sudahkah kau mengenali seluruh bagian tubuhmu?

Tahukah kamu?

Di kerling matamu aku pernah bersembunyi menyimpan senyum yang berserakan seperti remah roti.

Di jantungmu aku pernah menari-nari, detakmu yang menjadi iramanya, bertelanjang kaki.

Di kepalamu, aku pernah bermain ayunan, menelusuri prosotan meluncur dan turun d hati. Sesampainya di sana, ada trampolin. Aku melompat-lompat dengan riang dan begitu lelah hingga aku segera ke  lenganmu. Di situ hangat, aku suka.

Aku juga sering bermain di telingamu. aku mengalirkan suara dan membiarkannya menggema disana. Entah iseng mengeja namamu, cerewet mengingatkanmu, berbisik manja, atau menyanyikan melodi rindu.

Aku juga sering mengunjungi mata kakimu, di situ aku akan membawa kamera, ku potret langkah-langkah yang kau pijak, kemanapun di seluruh dunia.

Aku juga suka duduk-duduk di sela jemarimu. Di situ daerah hangat kedua setelah lengan. Maaf, aku suka tak sengaja tertidur disana.


Jadi Nona, sadarkah kamu?

Ada aku yang menjejaki semuamu.

Ada aku yang ingin menjadi udaramu.




oleh Rahne Putri.

soundcloud musikalisasi


.
0

Untuk Sebuah Rindu

.




Atas segala kesederhanaanmu, keceriaan, peluh dan bahagiaku,
aku merindukanmu, Jogja.



.
Back to Top