0

Dan Semua Hanya Masalah Waktu

.


Dalam pejam, hidup terasa lebih nyaman, karena saat kau terjaga dalam nyata, remah waktu hanyalah menuai getir, menggerogoti sepotong demi sepotong, dinding hatimu yang sudah terlalu tipis, nyaris habis. Namun apa lacur, esok hari, pagi bakal datang lagi, menunggu dibalik pintu untuk kau jumpai, dan itu, hanya bisa kauhadapi, dengan hela nafas panjang, dan senyum yang membisu.

Tadi malam kenangan itu mencair, dan pagi ini sudah jadi embun, sejuknya sampai di pucuk-pucuk daun. Aku kembali memulai pagi, menyusuri jalan-jalan yang biasa kita lewati, memutar lagu-lagu yang biasa kita nyanyikan, semuanya masih sama, sungguh masih sama, hingga ditepi jalan itu, aku kembali sadar, tak ada lagi jejakmu, dan aku benci itu.

Aroma pagi yang ranum, dengan sepuluh pasang burung gereja, diatas tiang listrik tua sebelah utara. Kau terjaga, masih memeluk selembar syal merah jambu, yang sudah kusut penuh ruas, namun wanginya masih seperti tadi malam, persis sebelum kau menutup pintu, memadamkan mata lampu. Kini cuma ada hening, dan kau masih menatap cangkir-cangkir kopi, yang mendingin sisa semalam.




Acho

0 comments:

Back to Top