Nona, sudahkah kau mengenali seluruh bagian tubuhmu? Tahukah kamu? Di kerling matamu aku pernah bersembunyi menyimpan senyum yang berserakan seperti remah roti. Di jantungmu aku pernah menari-nari, detakmu yang menjadi iramanya, bertelanjang kaki. Di kepalamu, aku pernah bermain ayunan, menelusuri prosotan meluncur dan turun d hati. Sesampainya di sana, ada trampolin. Aku melompat-lompat dengan riang dan begitu lelah hingga aku segera ke lenganmu. Di situ hangat, aku suka. Aku juga sering bermain di telingamu. aku mengalirkan suara dan membiarkannya menggema disana. Entah iseng mengeja namamu, cerewet mengingatkanmu, berbisik manja, atau menyanyikan melodi rindu. Aku juga sering mengunjungi mata kakimu, di situ aku akan membawa kamera, ku potret langkah-langkah yang kau pijak, kemanapun di seluruh dunia. Aku juga suka duduk-duduk di sela jemarimu. Di situ daerah hangat kedua setelah lengan. Maaf, aku suka tak sengaja tertidur disana.
"puisi adalah serangkaian pertanyaan yang tidak berhasrat memburu jawaban." (Hasan Aspahani) ketika wajah penat memikirkan dunia, maka berwudhulah...
ketika tangan letih menggapai cita-cita, maka bertakbirlah...
ketika pundak tidak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah...
ikhlaskan semua dan serahkan padaNya...
"Selama hidup saya, saya tidak pernah mendapatkan pelajaran apapun dari orang-orang yang setuju dengan saya." (Dudley Field Malone)
“Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi di antara baris-barisnya yang terang. Dimintanya aku tetap redup dan remang.” (Joko Pinurbo)
"Semua puisi yang buruk, berangkat dari perasaan asli. Menulis sesuatu yang alami adalah menulis apa adanya. Dan yang apa adanya itu tidak artistik." (Oscar Wilde)