0

ah, entah.

entah.
mungkin karena hujan.
mungkin karena temaram lampu kamar.
atau sunyi semesta rindu,
yang sedang mengguratkan jelas alur wajahmu.

aku kembali lemah.
ketika sapamu mengoyak lagi dinding bilur pilu hatiku.
semua tegar yang perlahan aku titi, runtuh seketika.
tak tersisa.

ah, sudahlah.
mungkin takdir Tuhan sudah tak lagi memihak inginku.
kamu.
Iya, kamu; masih menjadi nadi dalam setiap inchi ceritaku.
Tuhan, maafkan aku...

0 comments:

Back to Top