0

sebuah cerpen inspiratif

...
surat cinta untuk Aa'

Aku biasa memanggilnya “Aa”, sebutan sayang yang aku berikan untuk suamiku dan juga sebutan untuk nama panggilannya ketika berdakwah untuk menebarkan kebaikan.
Betapa bersyukurnya aku, memiliki suami sangat sabar dan penyayang seperti Aa, bukan hanya kepadaku, namun juga kepada ketujuh anakku, dan Aa juga selalu berpesan agar kita selalu menebarkan senyum, cinta dan salam kepada sekalian Umat manusia tanpa memandang latar belakang apapun.
“Nani, kamu yakin nak, mau menerima lamarannya?” begitu ungkap Abah kepadaku dua puluh tahun lalu, ketika aku menerima lamarannya yang dititipkan Ustad Syarifuddin kepada Abah, sementara kala itu aku hanya mengangguk tanda setuju.
Aku memandangnya bukan karena Aa adalah seorang laki-laki dengan banyak harta, uang, dan lain sebagainya. Namun, aku melihat kegigihannya. Pernah sepulang dari pasar aku naik angkotan umum, sambil mencari penumpang. Supir angkot itu terus membaca buku-buku tehnik yang tebalnya hampir menyamai kamus, aku sempat tertegun.
“Subhanallah, supir angkot di terik matahari yang mulai menyengat ini, suara bising dari kanan dan kiri para kondektur yang berebut penumpang, sementara di sini ada seorang supir yang tekun dan diam membaca buku,” begitu bisik hatiku kala itu.
Ternyata Ustad Syarifuddin menjelaskan kala itu Aa memang bekerja sebagai supir untuk membiayai kuliahnya di Jurusan Tehnik Elektro. Bukan hanya itu saja ternyata Aa bersama teman-temannya melalui Lembaga Mahasiswa Islam juga merintis usaha wiraswasta pada bidang kecil seperti pembuatan stiker, kaus, gantungan kunci, dan lain sebagainya. Ada rasa bangga dan syukur yang luar biasa yang aku panjatkan kepada ALLAH SWT pencipta alam kala itu.
Aa selalu mengingatkan aku untuk tidak pernah lalai dan melupakan salat malam, sebagai isteri, aku memang mengaguminya, Aa tidak pernah menggurui, namun bahasa lembut yang datang dari bibirnya merupakan tuntunan untukku dan juga anak-anakku agar selalu bersyukur, rendah hati, dan ikhlas juga menghindari Takkabur.
Kebiasaan yang aku tidak pernah lupa adalah, Aa selalu mengajakku naik sepeda untuk tiba dikantor yang dirintisnya dari nol, meski kantor itu terletak tak begitu jauh dari rumah kami, kata Aa begini “biar mesra ya umi”, dan aku tersenyum saja.
Jadwal Aa untuk berdakwah semakin banyak, Pondok Pesantren kami semakin ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah, terutama jika liburan tiba, kata Aa begini padaku suatu pagi “Ini Nikmat Allah SWT ya umi, namun kita sebagai manusia tidaklah boleh Takabbur, namun harus dapat terus menjaga nikmat ini dengan baik dengan cara kita harus selalu bersyukur ya umi,” aku tersenyum penuh cinta memandangnya.
“Aa semakin banyak ya dikagumi ibu-ibu,” begitu kataku pada Aa suatu pagi. Lalu Aa hanya tersenyum dan berkata “Alhamdullilah ini umi, dicintai orang kita harus bersyukur, karena cinta itu adalah doa, apalagi jika kita dicintai banyak Umat, Insya Allah kita semakin banyak didoakan, semakin sayang ALLAH SWT dengan kita dan keluarga ini ya umi,” begitu kata-kata Aa meneduhkan hatiku yang gersang.
Ternyata, bukan hanya Aa yang banyak diundang untuk menjadi penceramah di berbagai stasiun TV dan acara lainnya, namun nikmat juga datang pada diriku, aku juga semakin sering diundang untuk menghadiri dan memberikan sedikit ilmu yang aku miliki untuk berbagi kepada umat, yang paling membahagiakan adalah ketika para tamu yang datang ke Pondok Pesantren kami meminta aku dan Aa untuk berfoto bersama di samping para tamu yang kebanyakan adalah ibu-ibu.
Subhanallah, Terima Kasih ALLAH SWT atas nikmat MU.
Setiap hari, Aa selalu mengingatkan aku dan ketujuh anakku untuk membaca Ayat Suci Al Quran meskipun hanya satu ayat, tak lupa dengan terjemahannya, “agar kita lebih mengerti betapa nikmat karunia yang ALLAH SWT berikan kepada UmatNya dan agar kita tak lupa untuk selalu bersyukur,” begitu ungkap Aa kepada anak-anak.
Dua puluh tahun, aku mengarungi kehidupan rumah tangga bersama Aa, namun aku merasa seperti baru seminggu lalu, itu semua karena Aa selalu sabar membimbingku dan ketujuh anakku dengan cinta dan kasihnya.
Saat itu, ketujuh anakku sudah tidur terlelap, aku masih ingin membaca petikan-petikan Ayat Suci Al Quran yang setiap baitnya membuat raga dan nuraniku tergetar akan kekuasaan ALLAH SWT yang begitu besarnya.
Tiba-tiba Aa menghampiriku, “Umi, Aa ingin bercerita ya pada umi dan meminta pendapat umi,” aku tersenyum dan tangan kananku meraih wajahnya yang terlihat letih.
“Silahkan Aa, ada apa?” kataku kemudian
“Begini umi, bagaimana pendapat umi tentang Rani,” hatiku tergetar, tak biasanya Aa menanyakan seorang perempuan padaku dengan raut wajah yang begitu seriusnya.
Aku masih mengamati wajahnya, wajah yang dua puluh tahun aku lihat pagi, siang dan malam, “cantik Aa dan pintar, pekerjaannya juga cepat,” kataku dengan jujur.
“Umi, tanpa ada maksud menyakiti hati umi, Aa berniat untuk menikahinya sebagai jalan keluar darurat, karena menurut seorang sahabat, Ibunya sudah Stroke dan ayahnya sudah uzur dan pikun, Rani juga janda dari tiga anak, dan dia harus memikul tanggung jawab keluarganya seorang diri, jika umi tak berkeberatan hati, mohon umi ikhlas untuk membantu Aa menanyakan kebenaran kabar ini pada Rani,” begitu ungkap Aa yang aku yakin dengan berat dan berusaha jujur dengan hatinya.
“Baik Aa, nanti akan umi tanyakan kebenarannya dan berikan umi tiga hari waktu untuk bertahajud dan meminta petunjuk ALLAH SWT,” ungkapku pada Aa kala itu.
Hari pertama, aku menemui Rani, untuk berbincang dari hati ke hati padanya, dan pernyataan Aa atas kabar itu memanglah benar, ketabahan dan kesabaran Rani membuatku kagum sebagai seorang perempuan.
Malam demi malam aku bersujud pada Allah SWT pencipta alam meminta kebaikan, diberikan petunjuk dan hati yang ikhlas seperti yang Aa ajarkan.
Hingga pada akhirnya aku menyetujui permintaan Aa, sebagai perempuan biasa hatiku tentulah hancur, namun berusaha untuk lebih ikhlas dan berbagi dengan sesama, tidak dengki dan iri hati, itulah yang harus aku terus perjuangkan sebagai umat dan makhluk Allah SWT.
Aa, kini aku berusaha ikhlas, mungkin Allah SWT sebagai pencipta alam semesta dan isinya marah kepadaku, kemarin saat aku bersama Aa selama dua puluh tahun aku terlalu mencintai Aa melebihi cintaku pada Allah SWT, dan saat ini Allah SWT menegurku bahwa tidak ada cinta yang lebih sempurna melebihi cinta NYA kepada seluruh umat NYA.
Aa, hatiku bertasbih, bersenandung dengan cinta yang terbatas, bahwa sebagai perempuan yang pernah sepenuhnya bersamamu, maafkanlah aku jika pernah menyakiti hatimu, namun selama dua puluh tahun bersamaku, kau selalu melatihku untuk tidak mencintai dunia dan isinya, karena semuanya adalah ciptaan Allah SWT yang maha kuasa.
Aa, dahulu saat kita bersama-sama membangun menara untuk rumah tempat tinggal kita, maafkan aku pula jika pernah lupa tertidur karena kelelahan mengurusi anak-anak kita dan aku tak terbangun untuk membuatkanmu secangkir minuman kala kau pulang larut malam. Saat ini, aku memang sangat mencintaimu Aa, bahkan mungkin semua orang memujimu, namun di saat aku begitu mencintaimu, di saat itu pulalah keikhlasanku diuji.
Aa, mungkin Allah ingin memberi hikmah dari kejadian ini, karena kita sedang diuji dengan kemudahan dan kenikmatan yang tak terhingga juga penghormatan. Tanpa umi sadari Allah SWT mungkin pernah mendengar bisikan hati umi, “Inilah saya yang paling hebat, yang dapat mengantarkan suami saya kepada gerbang kesuksesan,” lalu Allah SWT marah dan memberikan Aa kekuatan untuk mendatangkan seorang perempuan yang saat ini Aa pilih sebagai istri.
Aa, hikmah yang Umi petik dengan poligami ini adalah berusaha untuk tidak dengki dan iri hati kepada orang lain, lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena jika dengki maka akan terhalang saya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sang pencipta alam.
Malam ini sehabis saya membaca Ayat-Ayat suci Al Quran, Umi baru mengerti, kalimat yang terkandung di dalamnya bahwa “Kita harus mencintai saudara seiman seperti kita mencintai diri sendiri”.
Sekarang ini, kita jarang bertemu Aa, anak-anak selalu bertanya, “Umi, abah pulangnya masih lama ya?” lalu aku selalu menjawabnya “Ayu kita berdoa sama Allah SWT biar abah cepet pulangnya dan kerjaannya di Jakarta segera selesai dengan baik,” kemudian kami membaca Ayat-ayat suci Al Quran bersama-sama seperti yang Aa ajarkan padaku dan anak-anak.
Aa, hatiku terluka, atas hujatan yang orang-orang berikan pada Aa, bagaimanapun aku mengerti, bahwa itu adalah jalan terbaik yang diberikan Allah SWT untuk keluarga kita dan hikmah agar umi menjadi perempuan yang lebih kuat.
Umi sangat berterima kasih kepada teh rani, karena umi dapat berevaluasi, berlatih untuk berbagi dan tidak dengki juga berlatih untuk memaafkan orang yang sepertinya menyakiti.
Aa, maafkan umi, hati tidaklah dapat didustai, kadar umi sebagai seorang perempuan yang pernah mencintai Aa tanpa berbagi terkadang timbul di permukaan, bagai sungai yang bergejolak dengan arung derasnya gelombang. Bagaimanapun, umi akan menjaga semua kasih sayang Aa di hati, seperti umi akan selalu menjaga ketujuh matahari kita dengan pengabdian yang tiada tara pada Allah SWT sang pencipta kepada umat NYA.


cerita pendek ini karya Esti Pramestiari, lahir dua puluh tujuh tahun lalu, lulusan Magister Ilmu Komunikasi Jurnalistik. Penulisan karya-karyanya berkaitan dengan realitas sosial dalam kehidupan. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, artikel, dan sebagainya telah menghiasi beberapa surat kabar cetak dan online, juga tabloid. Karyanya yang telah dimunculkan dalam Kompas.com antara lain "Perahu Kertas", "Perempuan Dimadu", "Wanita Penghibur", dan "Perawan Tua".

...

0 comments:

Back to Top