Tampilkan postingan dengan label luka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label luka. Tampilkan semua postingan
0

Surga Yang Kupiilih Sendiri

.


Sepertinya aku semakin sulit memahami rindu.
Seketika saja aku bisa mendengar tawa yang pecah seperti hujan,
lalu disaat yang sama, mendengar isakan tangis yang tertahan,
semacam nyanyi hujan di kejauhan.
Andai saja aku bisa menyederhanakan rindu,
sesederhana mereguk secangkir kopi hangat,
dibawah langit yang gerimis sebuah balkon kamar.

Kau tahu sayang?
Aku selalu memimpikan untuk pulang. 
Pulang menuju rumahku yang sesungguhnya.
Pulang ke tempat dimana hanya ada kita,
dua tungku perapian, dan selimut tebal coklat tua.
Apakah ada surga yang lebih indah daripada itu?
kalaupun ada, aku akan memilih surgaku sendiri,
bersamamu.

Kaulah segala peristiwa,
rangkai cerita disepanjang koridor masa,
meninggalkan sejuta kata,
melabuhkan rahasia,
mengekalkan rindu.
Apakah waktu? Apakah luka?
apapun, aku hanya menolak rindu, menyaksikanmu tak ada. 
Sungguh,
segalanya akan menjadi seluruh yang utuh, rinduku, Tuhanku.



.
0

kamu, lagi!

...

Semua yang telah kita jalani bukan buang-buang waktu, 
apalagi sia-sia.
Setiap detiknya berharga dan bermakna.
Melekang indah pada sejarah semesta.

Sekarang aku percaya.
Kita tidak mencinatai karena kepercayaan,
tapi kita percaya karena kita mencintai.

...dan dalam hujan itu kutemukan 
tawa dan tangis mengeja bahagia bersamamu, 
satu demi satu!!

...dan entah sebagai awal atau akhir, 
aku tetap menginginkanmu sebagai tokoh utama 
dalam setiap inci cerita bahagia dan sedihku!!

Kadang, cinta tak perlu bicara.
Dalam diam pun cinta mampu berkata-kata.
tentang aku,
tentang kamu,
tentang hujan,
dan tentang kita!!

_emka
0

kepada waktu, yang mengajariku menunggu.


...

Aku selalu kagum, kepada setiap ketukan detik, yang merangkak pelan-pelan pada jam dinding bundar itu.
Selalu saja penuh rahasia, menyelundup diam-diam, namun tak pernah lupa menanam benih-benih cerita.
Kau, aku, adalah jiwa-jiwa yang menari, berpijak dari satu titik ke titik lainnya, menebar tawa, meluruhkan air mata, melahirkan sebuah peristiwa.
Kepada celah sunyi, malam melantunkan jiwanya,
disela nyanyian-nyanyian angin yang sekilas melintas, menggoyangkan ranting-ranting kurus diujung jalan.
Malam sudah semakin membungkuk, mungkin terlalu takut bertemu pagi.
Rembulan sudah mati, hilang pendarnya ditepi subuh, hanya hening, selebihnya cuma rindu.


_Acho
0

sepotong ingatan tentang kamu


...

Bukan mauku untuk tidak memberimu kepastian,
tapi bersama kamu, tidak lebih dari sekadar cerita karangan.
yang akhirnya belum tentu berbahagia, yang akhirnya hanya meninggalkan luka.

Aku adalah air,
adalah udara, juga angin.
Aku bentuk segala yang kamu perlukan.
Sekaligus kebosanan yang selalu ingin kamu tinggalkan.


Aku belum tentu menemukan lagi yang sepertimu,
atau mungkin… Aku tidak akan mencarinya dan akan selalu menginginkanmu.



_chachathaib 
0

Sepi Takkan Pernah Bisa Sederhana

       ...

       Konon, sepi itu membunuh, menghimpit paru-parumu terlalu kencang, sampai kau lupa bagaimana caranya bernafas. Ujung dadamu selalu terasa kian sesaknya, hingga terkadang kau tak sadari, matamu sudah berkabut, yang pada akhirnya berlumuran air mata. Sungguh, sepi tak pernah bisa terasa sederhana, kerap kali membuatmu meradang, dan selalu saja mempecundangimu, dengan cara seperti itu.

       Sulit memang jika Tuhan sudah punya keinginan, Dia tak pernah bisa bersabar. Dan sukar bagimu untuk menang, saat kau berurusan dengan takdir, karena takdir sama sekali tak bisa menunggu. Kau hanya bisa duduk manis menerimanya, dipaksa merasakannya, dan kau sangat sadar, kalau kau tak mampu mengubah apapun didalamnya. Takdir hanya bisa memberimu pesan, bahwa dunia bukanlah tempat, dimana semua keinginan bisa terwujud.

       Inilah Tuhan, sang maha pengasih, lagi maha penyayang, tapi disatu sisi, Dia terbukti maha kuat. Saking kuatnya, hanya dalam hitungan detik, dia bisa membuatmu tersungkur, jatuh kedalam jurang kepedihan, mencabik sedikit demi sedikit dinding-dinding jiwamu, yang semakin lama semakin terlihat ringkih.

       Melanjutkan hidup, tentu saja, karena memang hidup pasti akan berlanjut dengan sendirinya. Hanya saja, hidup ini tak cukup hanya sekedar untuk dilanjutkan, tapi juga patut dirayakan. Dan kepergianmu, membuat segalanya menjadi sulit, dan kerap kali membuatku bertanya, bagaimana caranya merayakan hidup, saat kau berada dititik ini, titik dimana Tuhan telah membuat kita bermandi jarak, berpeluh sepi, dan terus terbenam dalam kekosongan.

       Kaulah rindu itu, sesaat dalam pelukan, lalu kini melepas pergi, sementara aku masih ingin sekali menari. Sialnya, hidup harus terus berjalan, bergerak dan terus melaju dengan congkaknya. Dan kini, akupun terpaksa harus sekarat dihadapan kenyataan.


_Muhadkly Acho
0

sesekali.


...


Aku mengingat engkau sesekali, mengingatmu seperti alun
rumput menari mengantar luka pergi ke tempat yang jauh.

Aku mengingat engkau sesekali, mengingatmu seperti sepi
langit malam dan jalan yang basah oleh kenangan.


Bernard Batubara
0

seperti kita.

...

Sebab tidak semua yang belum dimulai tak bisa berakhir,
seperti kita; yang nantinya akan menyerah pada takdir.


dari sebuah akun, @chachathaib
0

tentang sebuah kehilangan

...
 
 
"Ini tentang kisah kehilangan,
ketika kau mendapati separuh hatimu kosong dan merapuh
Atas nama ketidakpercayaan,
kita telah saling mengucapkan selamat tinggal.

Ketika tak ada lagi yang bisa kau percaya, ikuti kata hati.
Begitu seharusnya, bukan?

Dan, hati ini membawaku kembali kepadamu.
Tapi, kau tak lagi berada di tempat kita dahulu.
Apakah kau telah menemukan separuh hati lain-- selain hatiku?"
 
 
dalam sebuah buku, Kata Hati.
0

ada yang tenggelam.

...


ada yang mengapung di dalam matamu sesuatu seperti luka. tapi riaknya terlalu kecil untuk membuatku sadar bahwa rindu kita telah tercemar. mungkin kau menyimpan semuanya rapat-rapat hanya untuk menunggu waktu yang benar mengirimiku kartu ucapan bergambar darah dengan sebuah tulisan berbunyi 'terlambat'.

ada yang mengambang di sudut bibirmu sesuatu seperti luka. tapi gelombangnya terlalu tenang untuk membangunkanku dan dingin napasmu ternyata enggan menyelamatkan sepi yang kau tanam di seluruh mimpi. mungkin waktu terlalu naif dan jarak selalu lupa merekam rasa sesak yang kita nikmati berdua.

ada yang tenggelam di dasar kenangan. sesuatu seperti kau.



bisikanbusuk.blogspot.com
0

dijarimu...

...


di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata. kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.


sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat. aku tak mampu menulis di tanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian. kita begitu hapal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.

di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain. jauh dari yang tak akan kembali. jauh dari yang tak pernah terjadi.


bisikanbusuk.blogspot.com
0

ini senjaku, Drina

...


begini senjaku, Drina. saat luka tak lagi mengenal waktu dan penantian terasa abadi, sementara merah bukan lagi darah tapi sepi yang enggan pergi, mungkin di sebuah dermaga kau akan menyaksikan satu-dua kapal antah berantah mengangkut pulang kenangan entah milik siapa, milik aku yang telah lama tenggelam di dasar diammu, atau milikmu yang telah terbang bersama serak suaraku

mengucapkan perpisahan yang kita tau sama-sama berat
mengucapkannya lirih dalam satu pelukan
yang tak bisa lebih erat

begini senjaku, Drina. mungkin di dermaga itu kau tak akan bertemu aku, hanya menghitung detik demi detik dengan lancang berkejaran dan mengharapkannya mati atau beku. tapi ada beberapa pertemuan yang tak boleh terjadi karena luka setelahnya akan membuat sepi di bibir kita saling mengucap benci.

biarlah hening yang kau dan aku simpan berlayar dalam kapal yang berbeda
biarlah cahaya yang jingga menyala di matamu pergi, Drina
itu bukan senja kita.



bisikanbusuk.blogspot.com



0

aku mungkin lupa

...


aku mungkin sudah lupa,
bagaimana rasanya tertawa bahagia saat kita berdua

aku mungkin sudah lupa,
bagaimana rasanya menangis ketika jarak yang akhirnya berbicara

aku mungkin sudah lupa,
bagaimana rasanya rindu yang tertahan dalam jemu kita

aku mungkin sudah lupa,
bagaimana rasanya indah saat akhirnya kita bisa bertemu bahagia

aku mungkin sudah lupa,
bagaimana rasa nyaman itu ketika suaramu kembali ada

aku mungkin sudah lupa,
dingin malam itu ketika aku harus menjemputmu saat gelisah berkuasa

aku mungkin sudah lupa,
lebat dingin hujan malam itu yang kita habiskan saat berdua

aku mungkin sudah lupa,
hangat harum nafasmu ketika aku dalam ketakutan yang luar biasa

aku mungkin sudah lupa,
nyaman suaramu ketika amarahku  yang tak mereda

aku mungkin sudah lupa,
berapa banyak malam yang kita habiskan hanya untuk tertawa bersama,
berapa banyak detik yang kita habiskan untuk sebuah album cerita,
berapa banyak kenangan yang kita tulis berdua,

aku mungkin sudah lupa,
tentang kita berdua,
 tentang itu semua,
tentang kita,

tapi satu hal yang tak mungkin dapat ku lupa,
bagaimana caramu mengakhiri cerita kita,
dengan menghadirkan dia;
iya, dia.


kenapa ada, dia??
2

caraku

 ...
 
Saat kehadiranku semakin hari semakin kau abaikan, 
aku tahu satu-satunya cara terbaik adalah mundur perlahan.


dari sebuah account twitter @sazaleaa
0

ruined

...

We were happy with each other,
until love came and ruined everything.

_ted
0

selain puisi

...

 “Bukankah kita hanyalah sepasang kesedihan yang saling menentramkan?”, tanyamu pada sepiku. 

“Lalu, siapa yang abadi; jika cinta hanya mengajarkan ketabahan saat kehilangan?”, tanyaku, sambil sesekali mencoba menghentikan detak waktu.

“Tak ada yang abadi; selain sunyi, selain puisi…”


_pemetik luka
0

biarlah cinta menuliskan riwayatnya

...



“Aku akan mencintaimu seumur hidupku, selebihnya biar Tuhan yang merawat kesedihanmu”.

Langit begitu murung melepaskan rintik kesedihan, seolah-olah ia tahu; tak semua cinta bisa melimpahkan kebahagiaan. 

“Kita pun tak pernah paham, untuk apa cinta menciptakan kebahagiaan”.

Di kedalaman matamu, yang timbul tenggelam, tak tersentuh perahu-perahu doamu, ialah kesedihanku: seandainya engkau tahu , dan mau tahu…(tapi waktu lebih sering menidurkan kesadaranmu)

Bahkan, jika engkau tak mampu mencintaiku, setidaknya engkau tidak menciptakan kesakitan-kesakitan di rahim waktu. Sebab, mencintaimu adalah merawat kesedihanmu, membahagiakan kesunyianmu.

Aku ingin menjadi sesuatu, yang hanya bisa kau pahami dengan denyut jantungmu; dengan rindu, dengan cemburu, dan birahi kesakitanmu.

“Cintailah aku semampumu, semampu engkau mengelabuhi waktu”.

Kepada waktu, telah kutitipkan rindu, agar cinta bersemayam tenang dalam rumah ingatanmu. 

“Dan pada akhirnya, kenangan adalah tempat ternyaman bagi kecemasan-kecemasan berpulang…”

Lalu, untuk apa kususun katakata dalam puisi, jika sesuatu yg kuyakini abadi, hanya menyisakan riwayat-riwayat nyeri.

Di sudut kesunyian, di lengang malam yang baru saja tiba; Tuhan pun terdiam, tak memberi yang kesedihan minta.

Kita telah sama-sama menentukan sebuah jalan, jalan yg sama-sama tak ingin kita pilih, sebuah jalan; yg cinta sebut masa silam.

_pemetik luka
0

pagi yang mengigil dalam puisi

...


Pagi ini, kutemukan daun menggugurkan diri, ada tilas kesedihan; dari mimpi panjang yang tak sempat ia selesaikan...

Pagi ini, kutemukan ranting pepohonan berserakan, menjerit kesakitan; terkoyak dari hujan yang membadai semalaman... 

Pagi ini, kutemukan setetes embun menitikkan airmata, airmata penghabisan; sebelum cahaya perlahan-lahan memberinya kepedihan... 

Pagi ini, kutemukan kau dalam sepotong puisi. Dan aku pun membacanya seorang diri; dalam gigil pagi yang begitu nyeri... 

Pagi ini, kau dan aku saling berbagi, saling berjanji; mengakrabi sunyi yang paling sepi...

Pagi ini, sebuah puisi telah dilahirkan kembali; ke rahim ibu yang maha sunyi, ke dalam diri yang memuja sepi...



_pemetik luka
0

...dan cinta pun terdiam, dalam bising kata-kata.

...


Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, entah apa, aku lupa sebelum mengatakannya...

Ada yang ingin kubisikkan ke telingamu, entah apa, aku lupa mengatakannya sebelum angin senja menerbangkan kata-kata...

Ada yang ingin kukatakan kepadamu, entah apa, aku lupa mengatakannya sebelum cinta memberiku luka...

Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, ada yg ingin kubisikkan kepadamu, ada yang ingin kukatakan kepadamu, sekali saja, entah apa, aku lupa...

Mungkin, dengan diam, aku telah mengatakan segalanya, mengatakan segala yang tak ingin kukatakan kepadamu, sebelum cinta memberikan kita diam yang paling bisu...

Aku ingin diam, dalam bising kata-kata,
Aku ingin diam, untuk cinta yang tak bisa tinggal diam,
Aku ingin diam, untuk perasaan-perasaan kita yang tak bisa didiamkan kata-kata...

Dan cinta pun mendiamkan kita, dalam bising kata-kata.



_pemetik luka
0

tolong katakan...

...

 
...tolong katakan,

Katakan pada seseorang yang mencintaimu, sepasang lengan yang kini memeluk kesedihanmu, ialah lengan masa silamku yang tak pernah jera mendoakan kecemasanmu.

Katakan pada seseorang yang merawat luka-lukamu, sepasang bahu yang kini menjadi sandaran rindu dan cemburumu, ialah bahu masa silamku yang menopang segala yang nyeri dan pilu.

Katakan pada seseorang yang mendoakan kebahagiaanmu, debar dada yang kini selalu mendenyutkan kebaikanmu, ialah debar dada masa silamku yang selalu mengkhawatirkan keselamatanmu.

Katakan pada seseorang yang kini (lebih) mencintaimu, katakan semampu yang kau tahu: “Aku pernah mencintaimu, lebih dari yang kau dan cinta tahu…”. 

Berjanjilah kepadaku, berjanjilah kepada waktu, engkau akan mengatakan pada seseorang yang kini mencintaimu ~ agar aku tentram dalam masa lalumu, agar aku nyaman dalam rumah ingatanmu



_pemetik luka ( Bemz_Q ).
Back to Top