Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
0

Ketidakpastian Tentang Kepastian

...

       Malam ini, bulan tepat satu putaran lagi mencapai sempurnanya. Ditemani secangkir kopi hitam panas, asap rokok yang tak berjeda mengepul, dan ketidakpastian akan kepastian. Bukan membicarakan tentang kepastian cinta atau segala macam rekaan mengenai cinta itu; iya, cinta bukan lagi jadi kalimat-kalimat utama pengisi tulisan ini. Kali ini berbeda.

       Beberapa hari terakhir ini Tuhan benar-benar sedang menunjukkan kuasanya atas aku. Atas hidupku. Atas semua impianku. Tepat saat ini, di balkon rumah atas, bulan pun sedang mengajariku tentang hidup. Ketidakpastian akan kepastian. Apa yang benar-benar sudah kita yakini, dengan segala apapun yang mendukungnya, bisa musnah dan harus kita ikhlaskan. Bulan yang sedang begitu indahnya menunjukkan kesempurnaan, bisa hilang lenyap seketika. Tertutup mendung yang pekat. Hilang seketika keindahannya. Iya, sering kali kita melupakan satu hal. Takdir Tuhan. Ketika kuasaNya telah ditunjukkanNya, apa daya kita?

       Mungkin benar, ketika Tuhan telah menunjukkan kuasaNya, kita sudah tak berkutik sama sekali mengenai apa yang sudah digariskannya. Tapi terkadang kita lupa, khususnya aku. Bodoh. Kita masih menghujat. Kita masih menyalahkan. Berguna? Sama sekali tidak. Itu sudah ranah kuasa Tuhan atas hasil dari semua yang telah kita usahakan, kita tidak berhak mencampurinya. Kita sebagai manusia sudah digariskan apa saja yang menjadi kewajiban kita sebagai makhlukNya. Berusaha sekuat tenaga, segila-gilanya, dan meminta yang terbaik. Itu saja. Tidak lebih. Hasilnya? Itu sudah hak prerogatif Tuhan atas kita. Kita sangat tidak pantas mencampuri hal itu. Bukan ranah kita lagi, sebagai manusia.

       Hingga detik ini, sang Sutradara masih mengajariku arti menunggu. Dan aku yakin, apa yang engkau tuliskan untukku, apapun itu nanti, terbaik menurutMu. Tuhan, terima kasih atas semuanya. Aku tahu, tidak ada yang sia-sia atas apa yang telah aku lakukan selama ini. Maafkan aku atas ketidaksabaranku. Tuhan, aku sayang Engkau. :')

Balkon Kamar, 25 April 2013
.
0

Selamat, aku beruntung jadi anakmu.

...

Aku mendadak mati kata jika tentang ia.
Ia adalah senyatanya laut yang aku cintai. Pada peluknya adalah pantai yang kerap aku sambangi. Dan dadanya adalah samudera luas untuk aku renangi.

 Ibuku hebat. Dengan caranya.
Aku tahu badai apa yang mendera Ibu. Aku tahu bandang apa yang menyapu senyum di wajahnya yang kelabu.
Aku tahu beban apa yang ia simpan dibalik tawa dan tebaran senyuman.
Aku tahu ia ingin terlihat kuat dihadapanku.
Bagaimana pun Ibu, aku beruntung lahir dari rahimnya. Mengenal ia yang tak kalah hebat dari Xena.

Ibuku hebat. Ia tetap menganggapku sebagai anaknya meski aku sering membuat nada suara naik beberapa oktaf karena kelakuanku.
Ia tetap memelukku erat ketika aku menubruk dadanya.
Tetap yang paling tahu meski tak ku ungkap sepatah kata.
 
Ibuku semata semesta.
Ibuku senyata sebanding dengan indah senja.
Jika kamu temukan kehangatan lembayung di dadaku, jelas itu menurun darinya.


Bu, selamat hari Ibu.
Terimakasih, kamu memang musuh terbesarku. Pun aku untuk dirimu. Tapi tanpamu, hidupku jauh dari seru.
You rock, mom. I love you.



_eLwa

Bahagia itu; iya, sederhana.

salah banget emang kalo buka PC di dekstopnya ada Opera ata Chrome, yang harusnya ada file-file skripsi. terus ajaa hidup kaya gini!! hahaaaa... iya, harusnya sekarang aku lagi dihadapan Microsoft Word, Excel, sama AutoCad buat nyelesein skripsi yang selalu revisi, hahaaa...
gini, mau sedikit share ajaa, tulisan ini lebih buat cewek si, buat para calon istri dan ibu kelak. kemaren ngga sengaja nonton acara di tivi, yang katanya kisah nyata, isinya tu wow!!
cusssss!!

Ada sepasang suami istri. Dua-duanya mempunyai pekerjaan tetap dan seorang anak hasil buah cinta mereka. Karier mereka benar-benar sedang berada di puncak. Mereka benar-benar sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga anak mereka menjadi 'anak pembantu'. Nah, masalah muncul ketika karier si istri lebih bagus dari si suami yang pada intinya penghasilan sang istri jauh lebih banyak dari sang suami. Hal itu berjalan cukup lama, seiring dengan hal tersebut, 'rasa hormat' istri kepada suami terdegradasi, semakin berkurang, (yailah, sekarang doi mau apapun tanpa minta ke suami udah pasti terpenuhi!!). Sang istri benar-benar sudah berada di titik yang luar biasa tidak ada respect kepada suami. Lambat laun, Tuhan memberi teguran, karir keduanya ambruk, baik sang suami maupun sang istri. Nah, mulailah keduanya dari nol lagi. Sang suami mulai mencari-cari pekerjaan sebagaimanamestinya dan sang istri pun melakukan tugasnya sebagai istri sebagaimanamestinya, tugas yang mungkin sangat lama tidak lama dia kerjaan. Iya, disitulah dia merasakan kebahagiaan yang sangat lama dia cari. Kebahagiaan yang sudah lama tidak dia rasakan ketika menjadi atasan di kantor tempat dia bekerja, ketika di memimpin kantornya, ketika tak dipimpin lagi oleh suaminya. bahagia yang tidak dia dapatkan ketika lupa akan gadis kecilnya yang selalu menunggu kedua orangtuanya pulang sampai ketiduran lagi. kebahagiaan yang tidak dia dapatkan ketika lupa menyiapkan sarapan dan teh hangat setiap pagi untuk suami. Dia lupa kebahagiaan itu seperti apa.
Iya, sejak saat itu dia baru menyadari bahwa kebahagiaan seorang wanita yang sebenarnya adalah ketika dia bisa membuatkan teh hangat untuk suaminya setiap pagi, menyiapkan sarapan untuk suami dan menyuapi anak gadisnya, menunggu suami pulang kantor, menemani anak-anaknya yang sedang bermain dan belajar. Iya, Kebahagiaan sejati seorang wanita adalah tentang pengabdian seorang istri kepada suami dan pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya. Bahagia itu sederhana, kan??

Wuihh!!
0

masih ingat?


...
masih ingatkah tentang mereka yang hidup di kolong jembatan?
masih ingatkah tentang mereka yang tak sempat bercanda dengan orang tuanya?
masih ingatkah tentang kaisan recehan yang mereka dapatkan di terik siang?
masih ingatkah tentang mereka yang terbaring lemah tak berdaya?
masih ingatkah tentang mereka yang hanya bisa memandang pilu kemewahan dunia?
masih ingatkah tentang mereka yang tak bisa lagi tertawa karena teringat 'besok makan apa'?
masih ingat??
masih pantaskah tentang semua keluhan kita?
'nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?'

.
0

Qodo dan Qodar

...

tidak sengaja tadi waktu buka halaman facebook, ada sebuah status dari seorang teman yang cukup akrab denganku, begini bunyinya "Dan Surga juga Neraka telah ditentukan Allah di Lauhul Mahfud, Qodo dan Qodar.. Umuke pak Ustadz kemarin.. Ikhlas saja menjalani. moso?? :'( apa iya?!!" ,, sengaja aku copy paste statusnya.
cuma sekedar berbagi, bukan bermaksud menggurui, atau hal semacam itu,, iya, cuma sekedar berbagi atau share ilmu yang pernah aku dapat dari suatu pembicaraan bersama seseorang, dengan tema yang persis sama, yaitu Qodo dan Qodar.
Pembicaraan itu bermula dari suatu obrolan tak sengaja dan tiba-tiba terlintas, 'buat apa kita hidup jika surga dan neraka telah ditentukan bagi kita? apa itu adil untuk kita jika bahkan sebelum lahirpun nasib kita pun telah ditentukan, bahkan lebih jauh lagi, kita belum lahir pun, masih di dalam kandungan, nasib kita telah tertulis di Lauhul Mahfudz kita akan masuk surga atau neraka??"
begini penjelasan beliau, sedikit namun sangat mengena.
Kita mungkin lupa satu sifat Allah yang sangat luar biasa, Allah itu Maha Tahu, Dia yang menciptakan kita, menciptakan alam semesta, bahkan mensetting sel-sel terkecil dari tubuh kita terus bekerja di bawah alam tak sadar kita. Bukan Allah mematok seseorang bahwa misal si A masuk surga, si B masuk neraka, sama sekali bukan, namun karena 'ke-MahaTahu-an'Nyalah, Dia pasti tahu apa yang bakal terjadi, segala hal di masa depan kita, baik itu hal baik maupun hal yang kurang baik.
Dia Maha Tahu. Mungkin gampangannya, dapat dianalogikan juga seperti ini, Allah tahu kualitas orang tua kita, ayah kita, dan ibu kita, ketika kualitas gen ayah kita bertemu gen ibu kita, gabungan kedua gen tersebut jadilah kita, Allah tahu kualitas antara perpaduan dua gen ayah ibu kita, dan dengan kualitas gen yg kita miliki, Allah Maha Tahu sifat-sifat yang kita miliki berdasarkan gen tersebut, apakah cenderung baik atau buruk, nah itu mempengaruhi kualitas kehidupan yang kita jalani, lebih jauh lagi kualitas ibadah, amal perbuatan, dan dosa yang kita lakukan dapat 'terprediksi' dengan kualitas yang kita miliki.
Jika hal tersebut masih susah dicerna, analogi lebih kasar dan gampang lagi begini, seorang ahli kimia pasti sangat tahu ketika suatu zat kimia A dicampur dengan zat kimia B, akan menghasilkan zat C yang pasti dapat diprediksi sifat dan perilaku yang dimiliki zat C.
Iya, kurang lebih begitu penjelasan, dan inti dari semua hal tersebut, Dia lah Allah, Sang Maha Tahu. dan ingat, takdir kita masih dapat diubah, yaitu dengan doa dan usaha, serta perbuatan baik. Jadi tetaplah istiqomah.
ya itu sedikit hasil pembahasan saya dengan seseorang dan semoga bermanfaat,,
kebenaran hanya milik Allah, wallahu'alam....
0

special for my mom

...

sebuah percakapan singkat, untuk mamaQ tercinta....

Suatu hari seorang anak bertanya kepada Allah.

Anak: "Ya Allah, kenapa Bundaku suka menangis?"

Allah SWT: "Karena Bunda-mu seorang wanita, Aku ciptakan ia sebagai makhluk yang sangat istimewa. Aku kuatkan bahunya untuk menjaga putra-putrinya. Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman. Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia. Aku teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain menyerah. Aku beri ia rasa sensitif untuk mencintai putra-putrinya dalam keadaan apapun. Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi meski disakiti oleh putra-putrinya ataupun oleh suaminya sekalipun. Aku beri ia kekuatan untuk mendorong suaminya belajar dari kesalahan. Aku beri ia keindahan untuk melindungi batin suaminya. Bunda-mu adalah makhluk yang kuat. Sangat kuat. Jika suatu saat kamu melihat ia menangis, itu karena Aku beri ia air mata yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk membasuh luka batinnya sekaligus memberinya kekuatan baru.."

dikutip dari  http://ichalyssa-soebandono.blogspot.com


untuk semua perempuan di dunia, dan special untuk mamaQ tercinta...



0

where're your tears?



Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; 
[1] seorang pemimpin yang adil, 
[2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, 
[3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, 
[4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, 
[5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, 
[6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan 
[7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” 
(HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).

0

Man Proposes, God Disposes

...
Ya, seperti kata2 di atas, tugas kita di sini, di dunia ini, cuma berusaha, selebihnya itu urusan Tuhan. Sebagai katalisnya mungkin kita terus berdoa dan memohon seakan doa kita ga terkabul. Usaha yang maksimal dengan ditambah doa, keputusan akhir ada ditangan Tuhan.
Udah lama banged ni pengen nulis tentang ini, tapi baru sempet sekarang. Dan akhirnya, terlaksana juga nulis ini.
Okey, lanjutin lagi tentang pembicaraan tadi. Terkadang kita merasa kecewa, bahkan sangat kecewa  daatas hasil yang kita dapat setelah usaha maksimal yang udah kita lakukan. Mungkin dunia terasa tidak adil terhadap kita, semua begitu memberatkan untuk kita jalani atas hasil yang terjadi itu, usaha kita terasa sia-sia. Konteks masalah adil itu mungkin bias and abaca ditulisan saya sebelumnya ‘adilkah...???
MenurutQ pribadi, semuanya ga ada yang sia-sia, semuanya tergantung kediri kita masing-masing. Mungkin sebagai contohnya gini, biar gampang yang pernah aku alamin aja, saat organisasiku mengadakan Seminar Nasional yang menghadirkan Menteri, persiapan yang begitu matang, publikasi yang begitu besar-besaran setelah mendapat kepastian dari pihak Kementrian bahwa bapak Menteri sudah mengagendakan untuk hadir diacara seminar tersebut, yang jelas dari pihak kami dapat dibilang sangat siap untuk acara tersebut. Tepat jam 08.00 malam, tidak ada 12 jam sebelum acara dimulai, handphone bordering, panggilan dari Kepala Dinas PU, “Mas, pak Joko Kirmanto tidak bisa hadir besok, beliau ada panggilan mendadak dari pak SBY, mohon dikondisikan.” Langit terasa mau runtuh, usaha kami terasa sangat sia-sia, hampir 3 bulan kami menyiapkan semua, istilahnya tinggal 10% lagi semuanya ‘perfect’, terasa sia-sia!
Takdir Tuhan memang tidak bisa ditebak, sangat rahasia. Tapi ingat, semua tergantung kita, bijaksana atau tidakkah kita menghadapi takdir Tuhan itu dan mau belajar atau tidak kita atas semua yang sudah kita lewati, kegagalan-kegagalan yang kita alami. Semua ada ditangan kita. Mungkin orang-orang diluar sana, memandang dari hasil yang kita peroleh saja, tanpa tahu atau kasarnya persetan dengan apa yang sudah kita perjuangkan, apa yang sudah kita korbankan, usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil itu. Kita boleh kecewa, jangan berlebihan, kita harus belajar. Tugas kita cukup berusaha maksimal dan berdoa keras, itu saja! Semua hasilnya serahkan Tuhan, apapun itu! dan ikhlas atas hasil itu. Dan yang paling penting dari semua itu, pelajaran apa yang kita dapet dari hal tersebut, kita mau berusaha mengoreksi diri atau tidak, dan apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik atau tidak setelah hal tersebut. Semua ada ditangan kita sendiri. Ingat, ‘semua indah pada waktunya!’
Semoga bermanfaat!


Daphoow, April 25, 2011 @KMTS 00.41 am

0

Adilkah...???

.

"Kenapa aku diberi seperti ini? Ini tidak adil! Sungguh tidak adil!"

Mungkin anda berkata seperti itu apabila ditimpa sesuatu yang buruk, sementara Anda merasa tidak pernah melakukan hal yang buruk.

Sebagai contoh, ada seseorang yang tidak pernah menyakiti seseorang selama hidupnya, tetapi ada suatu waktu ia disakiti begitu kejam oleh orang lain. Lalu ia mengeluh seperti di atas.

"Kenapa koq saya disakiti? Padahal 'kan saya selama hidup tidak pernah menyakiti orang lain? Ini tidak adil!"

 Atau misalnya ada pula orang yang telah berbuat baik selama hidupnya. Ia selalu tekun beramal, tekun beribadah, tidak lupa sholat, puasa, dsb. Tetapi disuatu waktu, Allah menimpakan suatu cobaan yang besar kepadanya. Ternyata iman orang itu belum kokh, sehingga ia mengeluh seperti di atas.

"Aku 'kan sudah sholat, aku 'kan sudah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kenapa Allah masih saja menimpakan musibah kepadaku? Aku tidak terima ini! Ini tidak adil!"

Adil atau tidak, siapakah sebenarnya yang berhak memutuskan itu? Kenapa Anda begitu yakin bahwa hidup Anda tidak akan ditimpa musibah? Kenapa Anda begitu pasti bahwa hidup Anda akan mulus hingga akhir hayat?

Di dalam konteks ini, bukanlah hukum adil atau tidak adil yang berlaku, tapi hukum ketetapan dari-Nya. Jika Anda ditimpa suatu musibah, itu adalah suatu kehendak-Nya, tidak peduli apakah itu adil atau tidak menurut Anda.

Ketahuilah, segala hal yang ada didunia ini telah diciptakan dan direncanakan dengan seadil-adilnya oleh Allah Yang Maha Kuasa. Memang keadilan yang kita rasakan didunia ini masih semu sifatnya, tidak ada yang bisa menjelaskan secara konkret bahkan rasanya tidak masuk diakal atau hati kita.

Sering sekali kita lihat banyak hal buruk menimpa orang yang baik-baik, sementara orang yang jahat hidupnya kelihatan enak-enak saja, mereka sepertinya hidup tidak bersusah payah dan berbahagia. Tetapi janganlah anggap ini suatu ketidakadilan dari Allah, justru sebaliknya. Allah-lah yang paling Maha Adil dari segal-galnya. Semua yang telah Ia tetapkan kepada diri Anda adalah keadilan mutlak yang benar menurutnya.

Wajarlah apabila kita yang sedang ditimpa suatu musibah atau kemalangan untuk mengeluh. Itu memang sudah salah satu fitrah diri kita sebagai manusia. Sekarang masalahnya, jangan mengeluh terlalu banyak! Itu tidak akan membantu Anda sama sekali.

Ketahuilah, semua keluh kesah Anda akan merusak diri sendiri, menggembirakan musuh-musuh Anda, menyenangkan hati setan, dan yang terpenting harus diperhatikan, akan memurkakan Allah SWT.


...semoga bermanfaat
0

azhab wanita


...

Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu keduanya bertanya mengapa Rasul menangis. Beliau menjawab, “Pada malam aku di-isra’-kan, aku melihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.
Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. ”Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya. Aku lihat perempuan tergantang kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.
Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri. Aku lihat perempuan yang telinganya pekek dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.
Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,” kata Nabi.
Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu? *Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.
*Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang ‘mengotori’ tempat tidurnya.
*Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.
*Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.
*Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.
*Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena ia bisa shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.
*Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami.”
Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Dan inilah peringatan kepada kaum perempuan.

...
0

tears are diamonds

...

"if something went wrong, don't be sad.
It's just God's way to forgive your sins"

Sebenarnya, segala musibah dan kesedihan yang kita alami ini adalah pemberian Allah SWT. Yang paling utama yang kalian harus ketahui adalah 'dengan musibah berarti kalian masih disayangi Allah'.

Dengan memberikan kesedihan, Allah ingin mengampuni dosa-dosa kita yang terdahulu. Dengan musibah, Allah ingin menambah nikmat dan pahala untuk kita.

"Tidaklah seorang muslim menderita karena kesedihan, kedukaan, kesusahan, kepayahan, penyakit, dan gangguan duri yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni dosa-dosanya." (HR. Bukhori)

Jika kalian ingin mengerti ini, kesedihan akan mudah dihadapi dengan hati yang lapang. Jika kalian menerima ini, insyaAllah semua air mata yang telah kalian keluarkan akan berubah menjadi titik-titik permata yang berkilau di kehidupan akhirat nanti.


"Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS Ali Imran: 139)

Alhamdulillah... cobalah renungkan firman Allah di atas. Allah memberi tahu bahwa kita (orang-orang yang beriman) sebenarnya adalah orang ynag derajatnya paling tinggi, jadi tidak boleh bersedih karena Allah telah menjanjikan hal-hal yang jauh lebih baik sebagai pengganti kesedihan yang kita alami.

...semoga bermanfaat
Back to Top