Tampilkan postingan dengan label untuk mama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label untuk mama. Tampilkan semua postingan
0

Seteguk Puisi Untuk Dahagamu, Ibu

...


Perut membuncit saksi kita pernah ada
Tangan kasar saksi kita dirawatnya
Jari yang merapuh saksi kita disentuhnya

Kerutan wajah yang menua saksi kita telah dibesarkanya
Daster lusuh saksi kita diberinya makan
Tak tau waktu untuk tidur saksi kita menangis di gendongnya
Mata sayu saksi doanya untuk kita
Rambut tak beraturan saksi sarapan disediakanya


Sujud terimakasih anakmu haturkan
Untuk kerelaan
Kerelaan untuk tampil sederhana
Untuk sebuah harapan
Harapan yang menjelma sebagai doa
Doa untuk selalu melihat anakmu menggapai asa


Mungkin kau tak meraih
Namun tanganmu menyangga untuk anakmu meraih

Meraih sebuah impian
Impian yang kelak kau ceritakan
Kepada malaikat pencabut nyawa
Hingga akhirnya kau berkata
"Regangkanlah nyawaku"
"Tugasku tlah usai"
"Air mataku tlah kering karena kebahagian"
"Bahagia melihat anakku bahagia"

Terimakasih IBU...
Untuk jalan asa yang kau tutur.



Timotius Ferdian Prihatmoko
0

Selamat, aku beruntung jadi anakmu.

...

Aku mendadak mati kata jika tentang ia.
Ia adalah senyatanya laut yang aku cintai. Pada peluknya adalah pantai yang kerap aku sambangi. Dan dadanya adalah samudera luas untuk aku renangi.

 Ibuku hebat. Dengan caranya.
Aku tahu badai apa yang mendera Ibu. Aku tahu bandang apa yang menyapu senyum di wajahnya yang kelabu.
Aku tahu beban apa yang ia simpan dibalik tawa dan tebaran senyuman.
Aku tahu ia ingin terlihat kuat dihadapanku.
Bagaimana pun Ibu, aku beruntung lahir dari rahimnya. Mengenal ia yang tak kalah hebat dari Xena.

Ibuku hebat. Ia tetap menganggapku sebagai anaknya meski aku sering membuat nada suara naik beberapa oktaf karena kelakuanku.
Ia tetap memelukku erat ketika aku menubruk dadanya.
Tetap yang paling tahu meski tak ku ungkap sepatah kata.
 
Ibuku semata semesta.
Ibuku senyata sebanding dengan indah senja.
Jika kamu temukan kehangatan lembayung di dadaku, jelas itu menurun darinya.


Bu, selamat hari Ibu.
Terimakasih, kamu memang musuh terbesarku. Pun aku untuk dirimu. Tapi tanpamu, hidupku jauh dari seru.
You rock, mom. I love you.



_eLwa
0

tentang cinta yang selamanya.


...

Buatkan aku satu saja kata sederhana,
tentang seribu mimpi, kasih, kerinduan, kesetiaan, dan cinta yang tak pernah mati; Ibu.
 
Tak ada bekas air mata di sana. Bagaimana bisa, Tuhan?
 
Ada anak kecil di sana  merengek ingin punya cinta, entah kenapa.
"Yang hangatnya seperti pelukmu, belikan aku satu, Ibu."
Pintanya.


Ibu hanya senyum.


Ada anak kecil di sana tersipu karena diberi cinta, entah dari siapa.
"Hangatnya melebihi pelukmu, nyaman sekali ya, Ibu."
Ceritanya.

Ibu hanya senyum.


Ada anak kecil di sana menangis dicurangi cinta, entah oleh siapa.
"Aku memeluknya melebihi memelukmu, namun hangatku dibuangnya, Ibu."
Adunya.

Ibu hanya senyum.

Ada anak kecil di sana terdiam dipeluk cinta, yang ini, aku tahu siapa.
"Hampir aku lupa, pelukmu hangat sekali, Ibu."
Ucapnya.

Ibu masih tersenyum sambil berkata,
"Tidurlah, Sayang. Jangan khawatir, aku masih mencintaimu esok."





Kiky Anharizal
0

untuk mamaQ tercinta...

...
 07 Mei 2011

Tepat 47 th yang lalu, seorang bayi mulia lahir...
Seorang bayi perempuan yang telah digariskan Tuhan untuk menjadi seorang ibu kelak...
Wanita mulia yang tegar, tegas, sabar, dan penyayang...
dan akhirnya menjadi ibu yang bijaksana...

tanpa keluh...
tanpa kesah...
tanpa gerutu...
tanpa menyalahkan Tuhan atas semua yang telah digariskan-Nya...

Ibu... Ibu... Ibu...
begitulah Rosululloh SAW menempatkannya...
begitu mulia engkau wahai ibu...
begitu berarti...

seperti sebuah ilustrasi singkat berikut yang menunjukkan betapa mulianya seorang wanita, seorang ibu...

Suatu hari seorang anak bertanya kepada Allah.

Anak: "Ya Allah, kenapa Bundaku suka menangis?"

Allah SWT: "Karena Bunda-mu seorang wanita, Aku ciptakan ia sebagai makhluk yang sangat istimewa. Aku kuatkan bahunya untuk menjaga putra-putrinya. Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman. Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia. Aku teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain menyerah. Aku beri ia rasa sensitif untuk mencintai putra-putrinya dalam keadaan apapun. Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi meski disakiti oleh putra-putrinya ataupun oleh suaminya sekalipun. Aku beri ia kekuatan untuk mendorong suaminya belajar dari kesalahan. Aku beri ia keindahan untuk melindungi batin suaminya. Bunda-mu adalah makhluk yang kuat. Sangat kuat. Jika suatu saat kamu melihat ia menangis, itu karena Aku beri ia air mata yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk membasuh luka batinnya sekaligus memberinya kekuatan baru.."

Tak ada lagi yang bisa aku ucapkan...

Selamat Ulang Tahun mama...
Semoga di sisa hari-harimu ini akan lebih berarti,
untuk Allah, suami, anak-anakmu, serta semua makhluk...

terima kasih untuk semua pengorbananmu...
terima kasih untuk semua kasih sayangmu...
terima kasih untuk semua cintamu...
terima kasih untuk semuanya...
dan terima kasih Allah telah memberikanku seorang ibuku...


semoga aku tak akan pernah lagi mengecewakanmu...
amiiin...

Afi sayang mama...
0

special for my mom

...

sebuah percakapan singkat, untuk mamaQ tercinta....

Suatu hari seorang anak bertanya kepada Allah.

Anak: "Ya Allah, kenapa Bundaku suka menangis?"

Allah SWT: "Karena Bunda-mu seorang wanita, Aku ciptakan ia sebagai makhluk yang sangat istimewa. Aku kuatkan bahunya untuk menjaga putra-putrinya. Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman. Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia. Aku teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain menyerah. Aku beri ia rasa sensitif untuk mencintai putra-putrinya dalam keadaan apapun. Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi meski disakiti oleh putra-putrinya ataupun oleh suaminya sekalipun. Aku beri ia kekuatan untuk mendorong suaminya belajar dari kesalahan. Aku beri ia keindahan untuk melindungi batin suaminya. Bunda-mu adalah makhluk yang kuat. Sangat kuat. Jika suatu saat kamu melihat ia menangis, itu karena Aku beri ia air mata yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk membasuh luka batinnya sekaligus memberinya kekuatan baru.."

dikutip dari  http://ichalyssa-soebandono.blogspot.com


untuk semua perempuan di dunia, dan special untuk mamaQ tercinta...



0

reflection

Piring Kayu dan Gelas Bambu 


SEORANG lelaki tua yang baru ditinggal mati isterinya tinggal bersama anaknya, Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta cucunya, Viva yang baru berusia enam tahun. Keadaan lelaki tua itu sudah uzur, jari-jemarinya senantiasa gemetar dan pandangannya semakin hari semakin buram. 



Malam pertama pindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama. Lelaki tua itu merasa kurang nyaman menikmati hidangan di meja makan. Dia merasa amat canggung menggunakan sendok dan garpu. Selama ini dia gemar bersila, tapi di rumah anaknya dia tiada pilihan. Cukup sukar dirasakannya, sehingga seringkali makanan tersebut tumpah. Sebenarnya dia merasa malu seperti itu di depan anak menantu, tetapi dia gagal menahannya. Oleh karena kerap sekali dilirik menantu, selera makannya pun hilang. Dan tatkala dia memegang gelas minuman, pegangannya terlepas. Praaaaaannnnngggggg !! Bertaburanlah serpihan gelas di lantai. 



Pak tua menjadi serba salah. Dia bangun, mencoba memungut serpihan gelas itu, tapi Arwan melarangnya. Rina cemberut, mukanya masam. Viva merasa kasihan melihat kakeknya, tapi dia hanya dapat melihat untuk kemudian meneruskan makannya. 



"Esok ayah tak boleh makan bersama kita," Viva mendengar ibunya berkata pada kakeknya, ketika kakeknya beranjak masuk ke dalam kamar. Arwan hanya membisu. Sempat anak kecil itu memandang tajam ke dalam mata ayahnya. 



Demi memenuhi tuntutan Rina, Arwan membelikan sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan di sudut ruang makan. Di situlah ayahnya menikmati hidangan sendirian, sedangkan anak menantunya makan di meja makan. Viva juga dilarang apabila dia merengek ingin makan bersama kakeknya. 



Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibnya diperlakukan demikian. Ketika itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan. Dia terkenang arwah isterinya. Lalu perlahan-lahan dia berbisik: "Miah... buruk benar layanan anak kita pada abang." 



Sejak itu, lelaki tua merasa tidak betah tinggal di situ. Setiap hari dia dihardik karena menumpahkan sisa makanan. Dia diperlakukan seperti budak. Pernah dia terpikir untuk lari dari situ, tetapi begitu dia teringat cucunya, dia pun menahan diri. Dia tidak mau melukai hati cucunya. Biarlah dia menahan diri dicaci dan dihina anak menantu . 



Suatu malam, Viva terperanjat melihat kakeknya makan menggunakan piring kayu, begitu juga gelas minuman yang dibuat dari bambu. Dia mencoba mengingat-ingat, di manakah dia pernah melihat piring seperti itu. "Oh! Ya..." bisiknya. Viva teringat, semasa berkunjung ke rumah sahabat papanya dia melihat tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka menggunakan piring yang sama! 



"Tak akan ada lagi yang pecah, kalau tidak begitu, nanti habis piring dan mangkuk ibu," kata Rina apabila anaknya bertanya. 
Waktu terus berlalu. Walaupun makanan berserakan setiap kali waktu makan, tiada lagi piring atau gelas yang pecah. Apabila Viva memandang kakeknya yang sedang menyuap makanan, kedua-duanya hanya berbalas senyum. 



Seminggu kemudian, sewaktu pulang bekerja, Arwan dan Rina terperanjat melihat anak mereka sedang bermain dengan kepingan-kepingan kayu. Viva seperti sedang membuat sesuatu. Ada palu, gergaji dan pisau di sisinya. "Sedang membuat apa sayang? Berbahaya main benda-benda seperti ini," kata Arwan menegur manja anaknya. Dia sedikit heran bagaimana anaknya dapat mengeluarkan peralatan itu, padahal ia menyimpannya di dalam gudang. 



"Mau bikin piring, mangkuk dan gelas untuk Ayah dan Ibu. Bila Viva besar nanti, supaya tak susah mencarinya, tak usah ke pasar beli piring seperti untuk Kakek," kata Viva. 



Begitu mendengar jawaban anaknya, Arwan terkejut. Perasaan Rina terusik. Kelopak mata kedua-duanya basah. Jawaban Viva menusuk seluruh jantung, terasa seperti diiiris pisau. Mereka tersentak, selama ini mereka telah berbuat salah ! 



Malam itu Arwan menuntun tangan ayahnya ke meja makan. Rina menyendokkan nasi dan menuangkan minuman ke dalam gelas. Nasi yang tumpah tidak dihiraukan lagi. Viva beberapa kali memandang ibunya, kemudian ayah dan terakhir wajah kakeknya. Dia tidak bertanya, cuma tersenyum saja, bahagia dapat duduk bersebelahan lagi dengan kakeknya di meja makan. Lelaki tua itu juga tidak tahu kenapa anak menantunya tiba-tiba berubah. 



"Esok Viva mau buang piring kayu dan gelas bambu itu" kata Viva pada ayahnya setelah selesai makan. Arwan hanya mengangguk, tetapi dadanya masih terasa sesak. 



MORAL OF THE STORY - Hargailah kasih sayang kedua orang tua kita. Bapak Ibu kita hanya satu, setelah meninggal tidak akan ada pengganti. Jadi, berbaktilah kepada mereka selagi hidup !


...
Back to Top