0

Ketidakpastian Tentang Kepastian

...

       Malam ini, bulan tepat satu putaran lagi mencapai sempurnanya. Ditemani secangkir kopi hitam panas, asap rokok yang tak berjeda mengepul, dan ketidakpastian akan kepastian. Bukan membicarakan tentang kepastian cinta atau segala macam rekaan mengenai cinta itu; iya, cinta bukan lagi jadi kalimat-kalimat utama pengisi tulisan ini. Kali ini berbeda.

       Beberapa hari terakhir ini Tuhan benar-benar sedang menunjukkan kuasanya atas aku. Atas hidupku. Atas semua impianku. Tepat saat ini, di balkon rumah atas, bulan pun sedang mengajariku tentang hidup. Ketidakpastian akan kepastian. Apa yang benar-benar sudah kita yakini, dengan segala apapun yang mendukungnya, bisa musnah dan harus kita ikhlaskan. Bulan yang sedang begitu indahnya menunjukkan kesempurnaan, bisa hilang lenyap seketika. Tertutup mendung yang pekat. Hilang seketika keindahannya. Iya, sering kali kita melupakan satu hal. Takdir Tuhan. Ketika kuasaNya telah ditunjukkanNya, apa daya kita?

       Mungkin benar, ketika Tuhan telah menunjukkan kuasaNya, kita sudah tak berkutik sama sekali mengenai apa yang sudah digariskannya. Tapi terkadang kita lupa, khususnya aku. Bodoh. Kita masih menghujat. Kita masih menyalahkan. Berguna? Sama sekali tidak. Itu sudah ranah kuasa Tuhan atas hasil dari semua yang telah kita usahakan, kita tidak berhak mencampurinya. Kita sebagai manusia sudah digariskan apa saja yang menjadi kewajiban kita sebagai makhlukNya. Berusaha sekuat tenaga, segila-gilanya, dan meminta yang terbaik. Itu saja. Tidak lebih. Hasilnya? Itu sudah hak prerogatif Tuhan atas kita. Kita sangat tidak pantas mencampuri hal itu. Bukan ranah kita lagi, sebagai manusia.

       Hingga detik ini, sang Sutradara masih mengajariku arti menunggu. Dan aku yakin, apa yang engkau tuliskan untukku, apapun itu nanti, terbaik menurutMu. Tuhan, terima kasih atas semuanya. Aku tahu, tidak ada yang sia-sia atas apa yang telah aku lakukan selama ini. Maafkan aku atas ketidaksabaranku. Tuhan, aku sayang Engkau. :')

Balkon Kamar, 25 April 2013
.
0

untuk segalamu

.


untuk segalamu,
kini, sudah aku cukupkan segala batasku.
aku yang kini tanpamu,
sudah kurelakan berbagi.
Berbagi segala pedihku,
mungkin aku yang terlalu asik mencintaimu.
hingga aku terlalu mengerti arti menunggu.
dan di titik ini aku mengerti,
pun hatiku,
yang sudah tak tahu lagi arti pilu,
bahkan bilur biru di hatiku pun ikut merindu.

kini aku lemah kembali.
lemah dengan segala ketidakberdayaanku tanpamu.
lemah dengan segala ketidakrelaan melepasmu.
lemah dengan semua keterbatasanku.

kini, tidak ada lagi kamu.
apalagi kita, yang bahkan tidak pernah ada
dalam semesta ceritamu.
disini hanya ada aku, tanpamu.

"...sebab, tidak semua yang belum dimulai tak bisa berakhir,
seperti kita, yang akhirnya harus menyerah pada takdir"



aku.
insp. Lagu 'Hari Yang Kau Kenang Nanti' oleh @destaperkasa
0

Dan Semua Hanya Masalah Waktu

.


Dalam pejam, hidup terasa lebih nyaman, karena saat kau terjaga dalam nyata, remah waktu hanyalah menuai getir, menggerogoti sepotong demi sepotong, dinding hatimu yang sudah terlalu tipis, nyaris habis. Namun apa lacur, esok hari, pagi bakal datang lagi, menunggu dibalik pintu untuk kau jumpai, dan itu, hanya bisa kauhadapi, dengan hela nafas panjang, dan senyum yang membisu.

Tadi malam kenangan itu mencair, dan pagi ini sudah jadi embun, sejuknya sampai di pucuk-pucuk daun. Aku kembali memulai pagi, menyusuri jalan-jalan yang biasa kita lewati, memutar lagu-lagu yang biasa kita nyanyikan, semuanya masih sama, sungguh masih sama, hingga ditepi jalan itu, aku kembali sadar, tak ada lagi jejakmu, dan aku benci itu.

Aroma pagi yang ranum, dengan sepuluh pasang burung gereja, diatas tiang listrik tua sebelah utara. Kau terjaga, masih memeluk selembar syal merah jambu, yang sudah kusut penuh ruas, namun wanginya masih seperti tadi malam, persis sebelum kau menutup pintu, memadamkan mata lampu. Kini cuma ada hening, dan kau masih menatap cangkir-cangkir kopi, yang mendingin sisa semalam.




Acho
0

Surga Yang Kupiilih Sendiri

.


Sepertinya aku semakin sulit memahami rindu.
Seketika saja aku bisa mendengar tawa yang pecah seperti hujan,
lalu disaat yang sama, mendengar isakan tangis yang tertahan,
semacam nyanyi hujan di kejauhan.
Andai saja aku bisa menyederhanakan rindu,
sesederhana mereguk secangkir kopi hangat,
dibawah langit yang gerimis sebuah balkon kamar.

Kau tahu sayang?
Aku selalu memimpikan untuk pulang. 
Pulang menuju rumahku yang sesungguhnya.
Pulang ke tempat dimana hanya ada kita,
dua tungku perapian, dan selimut tebal coklat tua.
Apakah ada surga yang lebih indah daripada itu?
kalaupun ada, aku akan memilih surgaku sendiri,
bersamamu.

Kaulah segala peristiwa,
rangkai cerita disepanjang koridor masa,
meninggalkan sejuta kata,
melabuhkan rahasia,
mengekalkan rindu.
Apakah waktu? Apakah luka?
apapun, aku hanya menolak rindu, menyaksikanmu tak ada. 
Sungguh,
segalanya akan menjadi seluruh yang utuh, rinduku, Tuhanku.



.
0

Seteguk Puisi Untuk Dahagamu, Ibu

...


Perut membuncit saksi kita pernah ada
Tangan kasar saksi kita dirawatnya
Jari yang merapuh saksi kita disentuhnya

Kerutan wajah yang menua saksi kita telah dibesarkanya
Daster lusuh saksi kita diberinya makan
Tak tau waktu untuk tidur saksi kita menangis di gendongnya
Mata sayu saksi doanya untuk kita
Rambut tak beraturan saksi sarapan disediakanya


Sujud terimakasih anakmu haturkan
Untuk kerelaan
Kerelaan untuk tampil sederhana
Untuk sebuah harapan
Harapan yang menjelma sebagai doa
Doa untuk selalu melihat anakmu menggapai asa


Mungkin kau tak meraih
Namun tanganmu menyangga untuk anakmu meraih

Meraih sebuah impian
Impian yang kelak kau ceritakan
Kepada malaikat pencabut nyawa
Hingga akhirnya kau berkata
"Regangkanlah nyawaku"
"Tugasku tlah usai"
"Air mataku tlah kering karena kebahagian"
"Bahagia melihat anakku bahagia"

Terimakasih IBU...
Untuk jalan asa yang kau tutur.



Timotius Ferdian Prihatmoko

semacam pelega.

.


mungkin benar,
kehilangan seseorang yang kita cintai itu menyedihkan.
namun,
kehilangan seseorang yang belum pernah kita miliki,
jauh lebih menyakitkan, saya kira.
seperti kita kehilangan sesuatu yang bahkan kita sendiri
belum pernah menemukannya.

ah, hidup.
sulit sekali ditebak, hampir mustahil.
namun, kita punya Tuhan.
yang dengan 'iya'Nya, laut pun bisa menjadi tawar.
terkadang orang lupa, bahwa kita punya Dia.

...dan sampai dibaris ini, aku sudah tak tahu
apa yang sedang aku tuliskan.
ah, sudahlah!!


.


0

ah, kamu.

...


Bukan mauku untuk tidak memberimu kepastian,
tapi bersama kamu, tidak lebih dari sekadar cerita karangan.
 yang akhirnya belum tentu berbahagia,
yang akhirnya hanya meninggalkan luka.

Aku adalah air,
adalah udara, juga angin.
Aku bentuk segala yang kamu perlukan.
Sekaligus kebosanan yang selalu ingin kamu tinggalkan.

Aku belum tentu menemukan lagi yang sepertimu,
atau mungkin…
Aku tidak akan mencarinya dan akan selalu menginginkanmu.

aku tidak pernah berharap untuk
menjadi orang yang
terpenting dalam hidupmu,
karena itu merupakan
permintaan yang terlalu besar
bagiku…

aku hanya berharap suatu
saat nanti jika kau
melihatku…
kau akan tersenyum dan berkata….
“...dialah orang yang selalu menyayangiku…”



_chacha

.
0

ah, entah.

entah.
mungkin karena hujan.
mungkin karena temaram lampu kamar.
atau sunyi semesta rindu,
yang sedang mengguratkan jelas alur wajahmu.

aku kembali lemah.
ketika sapamu mengoyak lagi dinding bilur pilu hatiku.
semua tegar yang perlahan aku titi, runtuh seketika.
tak tersisa.

ah, sudahlah.
mungkin takdir Tuhan sudah tak lagi memihak inginku.
kamu.
Iya, kamu; masih menjadi nadi dalam setiap inchi ceritaku.
Tuhan, maafkan aku...

Back to Top